Welcome to the Lion Barwang Duajilullah Site..!!


^_^ Berdiri 25 Juny 2000 di Kraton Kesepuhan ^_^




Acara Halal Bihalal Yang Akan Diselenggarakan Di Situs Goa Sunyaragi.KAmi Mohon Pada Semua Pesilat Singa Barwang Agar Dapat Hadir Di Acara Penting IniTujuannya Untuk Bersilaturahmi Dan Mempererat Tali Persaudaraan Singa Barwang..!!Walaupun Jarak Memisahkan Kita Semua Tapi Cinta Kita TErhadap Perguruan Singa Barwang Akan Selalu Abadi Di Dalam HAti Kita..... ^_^

Minggu, 02 Mei 2010

SEJARAH SINGKAT KERATON KASEPUHAN



Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan berbagai macam hukuman terhadap setiap rakyat yang melanggar peraturan seperti hukuman cambuk. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar -- sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.
Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.
saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman. Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu. Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambing dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu. Dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini

.

1. Potret Kosmopolitan Penguasa Pesisir Cirebon Jawa Barat

Kesultanan Cirebon (menjadi Kraton Kasepuhan setelah perpecahannya pada tahun 1677, dan terbentuknya Kraton Kanoman) adalah sebuah kesultanan Islam di wilayah Jawa Barat yang berdiri pada abad 15 dan 16. Lokasinya yang terletak dalam jalur perdagangan penting antar pulau dalam abad merkantilisme pada saat itu memberikan gambaran tentang kosmopolitanisme penguasa Cirebon yang memadukan berbagai pengaruh peradaban besar seperti Cina, India, Eropa dan juga penguasa-penguasa Nusantara.
Pendiri pertama dinasti penguasa Cirebon adalah Pangeran Cakrabuana yang melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Pajajaran yang saat itu masih memeluk agama Hindu-Budha di pedalaman Jawa Barat. Peran Sunan Gunung Jati (1479-1568) sebagai pengganti Cakrabuana menjadikan kesultanan Cirebon sebagai salah satu tempat penyiaran agama Islam di Jawa Barat yang pada saat itu masih dalam pengaruh penguasa-penguasa Hindu-Budha (seperti Kerajaan Pajajaran yang terletak di wilayah pedalaman Jawa Barat). Dan dalam kaitan ini pula kita bisa melihat hubungan erat antara kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten yang juga sama-sama tumbuh menjadi penguasa lokal sepanjang pesisir pantai Jawa Barat dalam era yang sama. Bagaimana kaitan erat antara dua kesultanan tersebut bisa dilihat sekarang ini melalui salah satu koleksi alat musik degung milik kraton yang merupakan hadiah dari Sultan Banten.

2. Arsitektur & Interior

Apabila kita perhatikan ruang luar kraton kasepuhan, kita bisa melihat bagaimana perpabuan unsur-unsur Eropa seperti meriam dan patung singa di halaman muka, furniter dan meja kaca gaya Prancis tempat para tamu sultan berkaca sebelum menghadap, gerbang ukiran Bali dan pintu kayu model ukiran Prancis yang menampakan gambaran kosmpolitan kraton kasepuhan sekarang. Arsitektur dan koleksi benda-benda milik Katon Kasepuhan yang tersimpan dalam museum kraton dengan demikian memberikan sebuah gambaran tentang sifat kosmopolitan keraton pada masa kejayaan kesultanan Cirebon pada abad ke-15 dan ke-16.

Seperti juga penguasa-penguasa Nusantara lainnya (seperti Kasunanan Solo), terdapat kesan bagi para penguasa untuk mengadopsi kehidupan dunia luar dalam kehidupan penguasa lokal ini. Sebagai salah satu contohnya adalah kegemaran kesultanan Cirebon mengadopsi gaya dan arsitektur model Eropa yang mengisi bagian dalam Kraton Kasepuhan. Perhatikan bagaimana model dan ukiran di ruang pertemuan sultan dengan para menteri (bangsal Praayaksa) yang dibuat dengan model yang hampir sama dalam interior kerajaan Prancis di bawah dinasti Bourbon, seperti model kursi, meja dan lampu gantung. Bagaimanapun terdapat kombinasi gaya interior ini apabila kita memperhatikan sembilan kain berwarna di latar belakang singgasana raja yang melambangkan sosok wali songo (para penyebar agama Islam di Jawa). Di sini tradisi Jawa bercampur dengan Eropa yang telah 'dilokalkan'.

3. Koleksi Museum

Gambar berikut menunjukkan koleksi alat-alat musik degung milik kraton kasepuhan yang merupakan hadiah dari sultan Banten yang menunjukkan hubungan penguasa Cirebon dengan penguasa Banten saat itu yang sama-sama didirikan pada masa kejayaan penguasa-penguasa Islam di Jawa. Di dalam deretan perlengkapan alat musik tersebut, terdapat alat musik rebana peninggalan sunan Kalijaga. Di sini kita bisa melihat percampuran antara tradisi Arab dan Jawa berpadu dalam proses penyebaran agama Islam di Jawa pada masa itu.

Di dalam koleksi museum kraton kasepuhan lain yang menarik yang ditampilkan dalam gambar dibawah ini adalah kereta kuda, meriam portugis, tandu permaisuri dan relief kayu yang menggambarkan persenggamaan antara laki-laki dan perempuan yang melambangkan kesuburan. Dalam kaitan ini, kita bisa melihat bagaimana pengaruh tradisi Hindu-Budha dalam sejarah pra-kolonial Jawa masih bertahan di dalam era kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Meriam portugis yang menjadi bagian koleksi museum kraton kasepuhan juga menunjukkan bagaimana hubungan sultan Cirebon tersebut dengan kekuatan maritim Eropa yang mulai merambah jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara pada abad 16 dan

Koleksi penting lainnya dalam museum kraton kasepuhan adalah apa yang dikenal sekarang sebagai topeng Cirebon. Topeng ini adalah koleksi yang berasal dari periode Sunan Gunung Jati ini mewakili sebuah cerita tentang bagaimana seni lokal digunakan sebagai alat penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Barat, yang dapat dibandingkan dengan penggunaan medium wayang oleh Sunan Kalijaga di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

assalamualaikum.wr.wb.....,,,
blog baru pps singa baruwang....smoga sukses...,,,



RHZ-PN